NAUDZUBILLAH, 3 Golongan Manusia yang Akan Menjadi Musuh Allah di Akhirat, Nomor 3 Sering Terjadi

Semua orang tentunya berharap memiliki tempat terbaik di akhirat nanti. Tempat terbaik yang menjadi harapan itu adalah dimasukkan ke dalam surga. Namun cita-cita itu tidak akan bisa terwujud, jika kita menjadi musuh Allah SWT.

Sebab hanya Allah SWT yang berhak memberikan rahmat, untuk memasukkan hambanya ke dalam surga. Lantas, siapakah yang dimaksud dengan musuh Allah SWT, dan perilaku apa yang menyebabkannya menjadi musuh Allah? Berikut golongan orang yang menjadi musuh Allah.

Allah Subhanahu Wa ta'ala sangat menyayangi hamba-hambanya. Namun karena kelakuan hamba itu sendiri yang menyebabkannya mendapatkan murka dari Allah.


Dalam sebuah hadis Qudsi, Allah Subhanahu Wa ta'ala menyebutkan 3 golongan yang kelak akan menjadi musuh bagi Allah di akhirat. Dari Abu Hurairah radhiyallahu Anhu, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, Allah subhanahu wa ta'ala berfirman:

"Ada tiga golongan, Aku akan menjadi musuhnya, niscaya Aku memenuhinya. (Mereka itu adalah) seseorang yang berjanji dengan namaKu, kemudian ia mengingkari, dan seseorang yang menjual orang merdeka. Kemudian memakai hasilnya, dan seseorang yang mempekerjakan buruh dan buruh tersebut telah menyempurnakan pekerjaannya, namun ia tidak memberikan upahnya" (HR Bukhari).

1. Orang yang berjanji namun mengingkari

Dalam Islam, janji adalah sebuah hutang yang wajib ditunaikan. Bahkan secara tidak langsung orang yang mengingkari janji, adalah termasuk ke dalam kategori orang yang munafik. Hal ini sebagaimana dijelaskan dalam sebuah hadis,

"Tanda-tanda orang munafik itu ada tiga, yaitu jika berbicara berdusta, jika berjanji mengingkari, dan jika dipercaya berkhianat," (HR Bukhari Muslim, Abu Daud, Turmudzi dan al-Nasa'i).

Gambaran mengenai orang munafik ini juga sudah dijelaskan dalam ayat khusus oleh Allah subhanahu wa ta'ala dalam Alquran

"Apabila orang munafik datang kepadamu, mereka berkata: "kami mengakui bahwa sesungguhnya kamu benar-benar Rasul Allah," dan Allah mengetahui bahwa sesungguhnya kamu benar-benar rasul-Nya; dan Allah mengetahui bahwa sesungguhnya orang-orang munafik itu benar-benar orang pendusta. Mereka itu menjadikan sumpah mereka sebagai perisai, lalu mereka menghalangi (manusia) dari jalan Allah. Sesungguhnya amat buruklah apa yang telah mereka kerjakan. Yang demikian itu adalah karena bahwa sesungguhnya mereka telah beriman, kemudian menjadi kafir (lagi) lalu hati mereka dikunci mati; karena itu mereka tidak dapat mengerti," (Al-Qur'an surat al-Munafiqun: 1-3).

2. Orang yang menjual orang merdeka kemudian menikmati hasilnya

Hal semacam ini sudah terjadi mulai dari zaman para Nabi, di mana saat itu berkembang subur perbudakan yang diperjualbelikan layaknya binatang peliharaan. Namun pada zaman ini, hal semacam itu dikemas dengan sedemikian rupa, sehingga hal itu dikenal dengan istilah human trafficking.

Sebuah perdagangan manusia dalam segala jenis bentuk jual beli manusia, dan juga eksploitasi terhadap manusia seperti pelacuran atau pengambilan organ tubuh manusia. Praktik seperti ini sangat dilarang oleh Allah SWT, sebagaimana dijelaskan dalam Al-Qur'an:

"Dan janganlah kamu paksa budak-budak wanita untuk melakukan pelacuran, sedang mereka sendiri mengingini kesucian, karena kamu hendak mencari keuntungan duniawi. Dan barangsiapa yang memaksa mereka. Maka sesungguhnya Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang (kepada mereka) sesudah mereka dipaksa itu," ( QS An-Nur: 33).

3. Pemimpin yang tidak kunjung membayarkan upahnya

Golongan yang terakhir, yang telah akan menjadi musuh Allah, adalah seorang atasan yang tidak menunaikan kewajibannya untuk membayar upah kepada bawahannya.

Bekerja dalam Islam,diartikan sebagai bentuk pengabdian seseorang. Baik kepada Tuhannya maupun bentuk usahanya untuk mendapatkan penghasilan. Sehingga ia mampu memenuhi kebutuhan hidupnya.

Agama Islam, menjamin hak bekerja dengan baik. Hal ini sebagaimana dijelaskan dalam sebuah hadis:

Dari Abdullah bin Umar Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda: "Berikan kepada seorang pekerja upahnya sebelum keringatnya kering," (Ibnu Majah).

Sumber: jatimnetwork.com

Atas ARtikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel