Jika Suami Tak Memberikan Uang Nafkah, Apakah Istri Berdosa Menolak Hubungan Ranjang ?

Telah disepakati oleh Ulama salah satu kewajiban suami adalah menafkahi istrinya, dan mencukupkan sandang pangannya. (Al Mausu’ah al Fiqhiyyah juz: 41, hal. 35).



Karena memang mendapatkan nafkah itu adalah hak istri yang harus dipenuhi suami. Bahkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam amat marah kepada para suami yang tak memperhatikan kewajiban memenuhi nafkah sandang pangan istrinya dengan bersabda:

 
اللهم إني أخَرِّجُ حقَّ الضَّعيفين: اليتيمُ وَ المرأَةُ

"Ya Allah sungguh benar-benar aku mengecam pada orang yang tak mempedulikan hak dua golongan yang lemah, (yakni): anak yatim dan seorang istri". [HR. Ibnu Majah no.3678, Ahmad no.9664, Nasa’i no.9149. Kata Al Albani rahimahullah dalam Shahih Ibni Majah no.2982: “Hasan“].

Dengan demikian suami yang memang malas, apalagi sengaja tak memberikan nafkah lahiriyah kepada istrinya tanpa udzur syar'i adalah suami yang zhalim, mungkar.

Walau demikian, maka apakah boleh istri tak melayani ajakan suaminya untuk berhubungan badan akibat suami tak menafkahi sandang pangannya?.

Maka jawabannya, semestinya seorang istri bersabar menghadapi ini, dan tetap wajib baginya memenuhi ajakan suaminya untuk tidur bersamanya tersebut. Tak boleh istri membalas dendam dengan tak memenuhi ajakan suaminya tidur bersama hanya karena suaminya tak menafkahi lahiriyahnya.

Tidak boleh kejahatan dibalas dengan kejahatan. Tak boleh kemungkaran dilawan dengan kemungkaran.

Syaikh Khalid bin Abdul Mun'im Ar Rifa'i hafidzhahullah pernah menandaskan:

فإذا قصَّر أحدُ الزَّوجيْن في حقِّ الآخر، فليس للآخَر أن يقصِّر في حقِّه، فكلٌّ مسؤول عن تقْصيره يوم القيامة.

“Jika salah satu pasangan tidak menunaikan kewajibannya kepada yang lain, maka ini bukan berarti salah satu pihak boleh membalasnya dengan tidak menunaikan pula kewajibannya pada pasangannya itu. Karena masing-masing pihak akan dimintai pertanggung jawabannya (oleh Allah) di hari kiamat disebabkan keteledorannya dalam menunaikan kewajibannya". https://ar.islamway.net/fatwa/42859/

Lantas apa yang dilakukan istri jika suaminya terus tak lagi menunaikan kewajiban memberi nafkah lahiriyahnya walaupun sang istri telah mencoba sekian lama bertahan dengan kondisi ini?

Maka jika memang sang suami tetap tak menunaikan kewajibannya tersebut, dan pada akhirnya istri tak sanggup lagi dengan kezhaliman suaminya yang tak menafkahi lahiriyah baginya, maka istri jangan membalas dengan tak mau diajak tidur bersama dengan suaminya, tetapi ajukan saja hak gugat cerai. Dan ini dibenarkan oleh syari'at.

Syaikh Ar Rifa'i hafidzhahullah berkata:

وفي حالة تقْصير الزَّوج في الإنفاق، فالمرأة مخيَّرة بين أن تصبِر على ذلك، وبين أن تطلُب الطَّلاق، فإنِ اختارت الصَّبر، فإنَّه يَجب عليْها أن تُطيع زوْجَها، ويَجب عليها أن تؤدِّي كلَّ الحقوق الواجبة عليْها لزوجها، ومن ذلك حقُّه في الفراش، وإنِ اختارت الطَّلاق لَم تأثم بذلك

"Saat suami tidak menafkahi (lahiriyah) istrinya, maka ada dua pilihan bagi si istri tersebut (yakni) antara si istri tetap bersabar atau melakukan gugat cerai. Jika si istri memilih sikap (pertama) bersabar, maka istri tersebut tetap wajib memenuhi kewajiban pada suaminya termasuk urusan ranjang. Dan jika istri memilih sikap (kedua), yakni gugat cerai, maka tak ada dosa bagi istri tersebut". https://ar.islamway.net/fatwa/42859/

Karena itu Ibnul Mundzir rahimahullah berkata:

ثبت أنَّ عمر كتبَ إلى أُمراء الأجناد أن ينفقوا أو يطلِّقوا

"Telah shahih riwayat dari ‘Umar radhiallahu ‘anhu, 'Umar radhiallahu ‘anhu menulis surat untuk para panglima perang, agar para suami hendaklah tetap memberikan nafkah pada istrinya, atau hendaklah mereka mentalak istrinya“. (Jaami’ Ahkaam an Nisaa III 249 karya Musthafa al ‘Adawi).

Walhamdu lillaahi rabbil ‘aalamiin, wa shallallahu ‘alaa Muhammadin.

Oleh Ustadz Berik Said hafidzhahullah

sumber : dakwahmanhajsalaf.com

Atas ARtikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel